PROFIL SENIMAN
GILANG PROPAGILA
Seniman grafis, Pegiat Komunitas, Pengarsip Zine dan hal-hal yang berkaitan dengan subkultur Hardcore Punk, cukup lama menjadi juru kampanye lingkungan hidup di Bali. Gilang Propagila bekerja dengan banyak komunitas, organisasi, dan LSM dengan berbagai fokus isu di Bali. Gilang sering menggunakan seni dan zine sebagai alat bantu dalam melakukan kerja-kerja sosial dan komunitasnya.
Sebagian besar karyanya dipengaruhi oleh dinamika aktivisme di Bali dan nilai-nilai pada budaya tanding (counter culture) yang tumbuh di dalam subkultur Hardcore Punk. Gaya visualnya menampilkan ragam ekspresi manusia yang didandani dengan estetika punk namun dengan eskplorasi warna yang cukup popular, melampaui stereotype punk yang cenderung hanya hitam dan putih. Background Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia membuat karya-karyanya diperkaya dengan teks-teks dan potongan sastra yang kadang puitis, kadang menyentil, bahkan straight to the point. Kombinasi visual dan teks ini berusaha menyederhanakan wacana sosial politik yang terselip di dalam karyanya agar bisa ditempatkan dalam konteks hidup harian sehingga menyentuh pengalaman personal setiap orang yang menikmatinya.
Selama hampir 18 tahun Gilang Propagila banyak belajar dan terlibat di dalam organisasi gerakan mahasiswa, NGO Lingkungan Hidup, Beberapa Komunitas dan Kolektif Punk, serta mengambil peran dalam salah satu gerakan sosial Bali Tolak Reklamasi sebagai koordinator Mobilisasi massa ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) Teluk Benoa. Beragam aktivitas yang dilakukannya telah menjadi ruang bagi Gilang untuk mempresentasikan karya-karyanya kepada publik. Poster-poster yang Gilang lukis di karton-karton telah banyak digunakan dalam beberapa aksi solidaritas dan demonstrasi jalanan untuk melawan industri pariwisata rakus yang merusak alam, menyuarakan isu-isu kemanusiaan, dan menolak kebijakan yang tidak berpihak pada lingkungan hidup. Seni cetak cukil yang dilakukannya sejak SMA digunakan untuk berbagai kegiatan komunitas, kampanye popular pada gerakan sosial, dan acara penggalangan dana untuk aktivitas sosial. Seni cetak cukil menjadi salah satu metode untuk membuat aktivitas seni menjadi lebih partisipatif sehingga publik bisa terlibat menyuarakan apa yang ingin diperjuangkan bersama.
Beberapa tahun ke belakang, Gilang Propagila mendirikan Dis-Print Kultur, sebuah grup cetak manual berbasis di Bali yang tertarik berbagi wacana penggunaan seni cetak visual untuk gerakan sosial dan lingkungan hidup. Gilang percaya bahwa seni dapat menjadi moodbooster yang bisa menciptakan suasana yang lebih gembira dan menyenangkan menuju perubahan sosial dan personal yang lebih baik.
Gilang Propagila telah memamerkan karya dan atau menggelar beberapa workshop baik di ruang gallery maupun ruang-ruang mandiri berbasis komunitas yang berada di Tokyo, Taiwan, Hong Kong, Kuala Lumpur, Kota Kinabalu, Australia, Swiss, Jakarta, Pati, Surabaya, Malang, dan Bali.
Pameran Tunggal pertamanya di Bali, EVERYPUNK HAPPENS TO EVERYTHING digelar di DALAM Seniman Art Gallery Ubud, menampilkan 31 poster grafis yang dicetak menggunakan teknik cetak sablon, cetak cukil, dan digital print. Ide-ide yang dibagi dalam pameran memantik obrolan terhadap wacana-wacana alternatif yang tidak banyak beredar di wilayah pariwisata arus utama mulai dari dinamika komunitas kreatif dan subkultur yang tumbuh dengan baik hingga dampak industri pariwisata terhadap lingkungan hidup di Bali.
Saat ini di sela-sela aktivitasnya sebagai seorang Ayah, Gilang Propagila aktif berkarya sambil meneruskan proyek pengarsipan dan penerbitan zine, menyusun mixtape untuk radio streaming, bermain DJ vinyl, menggelar klub baca dan lokakarya pembuatan zine, serta membuka Tektonik Record Store sebagai distro yang mendistribusikan piringan hitam, kaset pita, zine, buku alternatif, dan beragam karya yang ia buat.
***
Gilang Propagila is a visual graphic artist, community organizer, zine archivist, and hardcore punk activist who has long been active as an environmental campaigner in Bali. He collaborates with numerous communities, organizations, and NGOs, addressing a wide range of social and ecological issues on the island. Gilang often uses art and zines as powerful tools in his social and community engagement.
Much of his work draws inspiration from the dynamics of activism in Bali and the values of counterculture that thrive within the hardcore punk scene. His visual style captures diverse human expressions wrapped in punk aesthetics, yet distinguished by his bold and colorful approach—transcending the typical black-and-white imagery often associated with punk. With a background in Indonesian language and literature, Gilang enriches his art with text and literary fragments that range from poetic to poignant, and at times direct and raw. This interplay between text and visuals seeks to distill complex socio-political ideas into accessible forms, placing them within everyday contexts that resonate with personal experiences.
For nearly eighteen years, Gilang Propagila has immersed himself in student organizations, environmental NGOs, community initiatives, and punk collectives. He also served as a coordinator for ForBALI (Bali People’s Forum Against Reclamation), a mass mobilization movement in Benoa Bay. These various involvements have provided him with a platform to publicly present his work. His signature cardboard posters have been widely used in solidarity actions and street demonstrations—protesting the exploitative tourism industry that harms nature, highlighting humanitarian issues, and opposing environmentally destructive policies.
Gilang uses printmaking techniques from silk screen print to linocut print for community projects, social movement campaigns, and fundraising for social causes. For him, printmaking can be a participatory art form—a method that empowers people to express shared struggles through creative collaboration.
Several years ago, he founded Dis-Print Kultur, a Bali-based manual printing collective dedicated to exploring the use of visual printmaking in social and environmental movements. Gilang believes that art has the power to uplift the spirit—creating joyful, meaningful spaces that inspire both social and personal transformation.
He has exhibited his work and conducted workshops in galleries and community-based venues across Tokyo, Taiwan, Hong Kong, Kuala Lumpur, Kota Kinabalu, Australia, Switzerland, Jakarta, Pati, Surabaya, Malang, and Bali.
His first solo exhibition in Bali, EVERYPUNK HAPPENS TO EVERYTHING, held at Dalam Seniman Art Gallery Ubud, showcased 31 graphic posters created using screen printing, etching, and digital printing techniques. The exhibition invited reflection and discussion on alternative discourses rarely found in mainstream tourism areas—from the vibrancy of creative communities and subcultures to the environmental consequences of Bali’s tourism industry.
Now, alongside his role as a father, Gilang remains deeply engaged in his artistic and community work. He continues to archive and publish zines, curate mixtapes for streaming radio, perform as a vinyl DJ, host reading circles and zine-making workshops, and run Tectonik Record Store—a distro that distributes vinyl records, cassette tapes, zines, alternative books, and his own creative works.